Saya Ber-Pancasila

 https://youtu.be/YaO2CkJg43s?si=tKouVlu3spuDpqXQ


Dalam blog kali ini, aku akan bahas video yang udah aku buat dan mengaitkannya dengan tema "Saya Ber-Pancasila". Video ini menceritakan tentang seorang wanita tunarungu yang terisolasi di sebuah ruangan hingga waktu yang tak ditentukan. Kala harapan muncul, waktu pergi bersamaan dengannya. Video ini dikemas dengan sederhana yang dapat dilihat dari isinya yang merupakan kegiatan sehari-hari. Lantas bagaimana "Saya Ber-Pancasila" dalam video ini?


Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa

- Beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa 

Pada dasarnya kita hanyalah hamba yang mesti beribadah kepada-Nya. 

: Dalam video, pengamalan ini dilaksanakan dengan ibadah sholat.

- Di hadapan Tuhan, semua manusia sama

Tuhan tak melihat siapa ataupun bagaimana hamba-Nya ketika mereka beribadah. Terlepas dari perbedaan yang dimiliki, di mata Tuhan, kita semua sama.

: Dalam video, pengamalan ini terlihat dengan ibadah yang tetap dilaksanakan terlepas dari kekurangan yang dimiliki. Terdapat adegan perempuan tunarungu yang melaksanakan sholat. Adegan ini mungkin bukan pengamalanku, namun ini mencerminkan kekagumanku akan teman tunarungu ku yang tetap bersimpuh pada Tuhan terlepas dari kekurangan yang diberikan oleh-Nya.


Sila Kedua : Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

- Karakter terbaik adalah karakter yang beradab

Adab adalah hal dasar yang dapat dilakukan oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Sopan santun menjadi hal yang sudah mengikat adab. Di kala kita sopan dan santun, kita sudah termasuk manusia yang beradab. Hormati, Tolongi, Hargai.

: Dalam video, pengamalan ini dilaksanakan dengan menunduk sopan untuk meminta jalan sebelum melewat. 

- Apa itu perbedaan diantara kita?

Di mata hukum, agama, negara, kita semua sama. Karena itu, dengan rasa hormat yang tinggi, mari kita jaga bersama hak asasi, tanpa pandang bulu, tanpa diskriminasi.

: Dalam video, pengamalan ini terlihat dengan pertemanan tanpa melihat kekurangan yang dimiliki. Terdapat adegan perempuan yang tak bisa berbicara namun tetap diajak untuk berdiskusi bersama. Adegan ini mencerminkan pertemananku dengan sahabat tunarungu ku.


Sila Ketiga : Persatuan Indonesia

- Mulailah untuk masa depan

Dari kecil, kita sudah diajak untuk belajar. Semua ini demi masa depan kita, keluarga, dan negara. Tuntun Indonesia untuk maju dengan ilmu, niscaya Indonesia kan bersatu. Bahkan kemerdekaan Indonesia didasari oleh pemikiran-pemikiran. 

: dalam video, pengamalan ini dilaksanakan dengan membaca buku, menulis, dan bersekolah. Kegiatan ini mencerminkan diriku sebagai seorang pelajar yang hobi membaca.

- Dari kita untuk mereka

Organisasi hadir untuk membantu masyarakat. Bantuan kecil pun sangatlah berdampak dan bermanfaat. Jadilah bagian dari organisasi, hadirkanlah inovasi, jadikan masyarakat lingkungan yang sejahtera.

: dalam video, pengamalan ini terlihat dalam adegan menulis sembari menelpon. Adegan ini mencerminkan kegiatanku sebagai anggota Karang Taruna yang kian dihubungi untuk berdiskusi. Adegan menulis mencerminkan pencurahan ide inovasi yang kerap ku lakukan, salah satunya program kerja kelas minggu yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu anak negeri.


Sila Keempat : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

- Tukar pikiran, cari jalan keluar

Tak terkira seberapa banyak pemikiran yang terdapat dalam negeri ini. Dalam perbedaan maupun pertentangan, musyawarah lah jalan keluarnya. Setiap orang berhak untuk memberikan pendapat dan setiap pendapat berhak untuk didengar, dihargai, dan dihormati. 

: dalam video, pengamalan ini dilaksanakan dengan berdiskusi di dalam kelas. 


Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

- Ini untukku, untukmu, untuk kita semua

Setiap jembatan yang terbentang, setiap taman yang rindang, dan setiap jalan yang mulus adalah hak milik bersama, bukan milik satu individu. Semua itu adalah persembahan untuk seluruh rakyat Indonesia, agar setiap langkah dapat merasakan indahnya kebersamaan dan meratanya keadilan. Ini adalah cerminan dari hati nurani bangsa, yang ingin melihat setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidup.

: dalam video, pengamalan ini terlihat dalam adegan di perpustakaan. Perpustakaan ini adalah adalah fasilitas umum dan semua orang dapat menggunakan nya.


Meskipun langkahku belum sempurna, delapan adalah cerminan dari hati yang terus berusaha menyelaraskan setiap tindakan dengan napas Pancasila. Ada keikhlasan dalam setiap sila, namun aku sadar, masih ada ruang kosong yang menanti untuk diisi dengan pengabdian yang lebih dalam. Perjalananku ini tak akan berhenti, aku kan terus tumbuh, berproses, dan menjadi pribadi yang utuh dalam bingkai kebhinekaan.

Dalam pengalaman melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang Anda gambarkan, perasaan yang muncul adalah kebanggaan, keharuan, dan harapan.

 * Kebanggaan: Anda merasa bangga karena mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai tindakan nyata.

 * Keharuan: Ada rasa haru yang mendalam, terutama saat melihat teman tunarungu tetap teguh beribadah. Ini memunculkan rasa kagum dan kesadaran bahwa kekurangan fisik bukanlah penghalang untuk memiliki keimanan yang kuat.

 * Harapan: Dengan mengamalkan Pancasila, Anda merasa memiliki harapan bahwa bangsa Indonesia dapat menjadi lebih baik. Melalui kontribusi kecil seperti berorganisasi, berdiskusi, dan menghargai sesama, Anda yakin dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih adil dan bersatu.

Secara keseluruhan, perasaan ini mencerminkan bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi, tetapi juga pedoman hidup yang memberikan makna dan tujuan.


"Saya Ber-Pancasila" bukan hanya tentang mengucap lima sila dengan lantang, tapi juga tentang menundukkan hati untuk memahami arti Ketuhanan yang Maha Esa dalam setiap doa dan tindakan. Bukan sekadar mengakui Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, melainkan menghargai martabat setiap insan tanpa memandang suku, agama, atau status. Bukan sekadar menghafal Persatuan Indonesia, melainkan merangkul perbedaan sebagai kekayaan yang mengikat kita. Bukan hanya tentang teori Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, tapi juga tentang mendengar, menghargai, dan bergotong royong dalam mencari solusi terbaik. Dan yang paling utama, bukan hanya retorika tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, melainkan perjuangan nyata untuk memastikan setiap orang mendapatkan haknya, hidup layak, dan merdeka dari ketidakadilan.





~ Siti Raihanun Azahra XII-2 | 232410070

Postingan populer dari blog ini

I'm Raihanun

2024✨